Dalimin sedang bingung dan
membingungkan diri. Sebagai seorang teman tentu saya tidak bias berdiam diri
melihat dia manyun terus begitu. Saya coba menerka-nerka kiranya apa yang
sedang dia pikirin, dan kesimpulan saya bermuara pada satu titik, apalagi kalau
bukan maslaah duit. Secara, dia kan sering pinjem duit sama saya. Mungkin itu
kebingungan yang dibuat-buat biar saya melihatnya iba terus saya menawarkan
diri untuk meminjamkan uang lagi, ah, laknat benar pikiran saya ini.
“min, kenapa kau ini, aku liat dari tadi kok manyun terus, tambah jelek
muka kau itu” kata saya mencoba berbaik hati, bukankah saya ini temannya.
“ anu rus ,… aku …”
“ gak punya duit, terus malu mo pinjem sama saya, … ah kau anggap aku
apa, aku kan temanmu, tak usah malu-malu lah, berapa?” cegat saya
“ bukan rus, bukan itu, saya punya suatu keinginan yang mungkin tak
akan pernah terwujud” ujar dalimin masih dengan muka lesu dan tak enak sekali
dilihat.
“apa itu min, katakan saja barangkali saya bias bantu” tawar saya
“ ah, malu saya mengatakannya … sudahlah biar aku kubur saja keinginan
saya itu, saya pergi dulu rus mau narik becak” kata dalimin lantas pergi begitu
saja
Kurang ajar betul dalimin itu, tak mau menceritakan apa keinginannya,
eh main ngacir aja. Kurangajarnya lagi terkaan saya meleset 180 derajat, ah,
peduli amat, pengen apa kek itu kan urusan dia. Tetapi, ternyata perasaan saya
tidak dapat dibohongi, saya ini kan seorang teman, tentu harus ngerti temannya,
apalagi dalam kondisi kebingungan begitu. Tak enak hati saya. Lantas saya pun
segera menyusul dalimin ke rumahnya.
Sesampai dirumahnya, saya tidak menjumpai batang congor dalimin, Cuma
ada istri dan anaknya yang seemprit itu. Tak kurang akal, saya pun mengorek
keterangan perihal manyunnya muka dalimin.
“ surti, suami kau kenapa itu, saya liat kok manyun mulu?” tanya saya
kepada surti
“ iya kang rus, sudah tiga malam kang dalimin tak enak tidur, juga tak
enak makan, dia ngomong sama saya kalau dia kepengen punya motor kayak
orang-orang” tutur istri dalimin sembari menyusui anaknya yang seemprit itu.
“hah, … kepengen punya motor” teriak saya sembari membuang pandangan ke
arah lain karena di depan saya itu jelas
pemandangan yang tak enak ditonton: payudara istri dalimin yang kendur dan item
saat menyusui anaknya. Tak ada napsu acan-acan saya melihatnya.
Kekagetan saya itu cukup beralasan kuat. Bagaimana mungkin dalimin bias
beli motor, walaupun kredit sekali pun, untuk menghidupi keluarganya sehari-hari
saja kadang ngutang sama saya, terus ngembaliinnya nauzubilah lamanya. Saya
tertawa geli, dalam hati saja, tak enak kalau-kalau diliat istri dalimin,
malulah dia.
“ ya, sudahlah, saya akan cari dalimin, kali saya saya bias bantu dia”
kata saya, lantas ngloyor begitu saja
Rupanya tuhan benar-benar mengabulkan omongan saya tadi, walalupun
sebenarnya itu Cuma basa-basi. Di sebuah perempatan, Nampak congo dalimin
sedang tidur-tiduran di becaknya.
“ ah, disini rupanya kau min, saya sudah tau apa keinginanmu min” kata
saya
Dahi dalimin berkerenyit, alisnya naik turun, jakunnya juga naik turun
menelan ludah.
“ tau dari mana kamu, rus?” tanya dalimin separo kaget
“dari istri kau, min, dia udah ngejelasin semuanya, kau ingin punya
motor, kan”
“ah, udahlah rus, sekarang saya nggak napsu lagi, kalau kepengen naik
motor nanti saya pinjem motor kamu aja ya rus” katanya dengan nada loyo.
Lagi-lagi perasaan saya teraduk aduk berkecamuk. Tak tega saya melihat
teman sengsara begitu, tapi lebih tak tega lagi kalau nanti motor saya setiap
hari dipinjem dalimin. Puter-puter otak, saya pun nemu solusinya.
“ begini saja min, bagaimana kalau kau ikut lomba rias becak kau itu,
kebetulan kemarin saya liat di kabupaten ada pengumuman lomba “pelestarian
asset tradisional”, nah kan cocok tuh” tukas saya berapi-api biar dalimin
ikutan semangat dan ternyata betullah dugaan saya, mata dalimin Nampak menyala-nyala.
Dia nampak manggut-manggut, kemudian senyum, semangat lagi, senyum lagi, entah
apa yang sedang ada di otaknya.
“ siip …” kata dalimin penuh semangat
“tapi, saya tidak ada modal buat beli alat-alat riasnya, rus”
sambungnya, semangatnya sedikit melemah
“ah, gampang itu, kau tidak usah mikirin soal itu, nanti aku bantu, ya
aku bantu, min” kata saya walaupun setelah mikir-mikir, rasanya tidak sedikit
uang yang dikeluakan buat beli alat-alat rias. Ah … sial betul, tapi nasi udah
jadi bubur, saya telanjur mengatakannya mau bantu dia.
Keesokan harinya, saya pun sibuk belanja alat-alat buat ngrias becaknya
dalimin. Nyesel juga saya, tapi ini demi seorang teman biar mukanya nggak
manyun terus. Lagi pula toh ini sesuatu yang mulia. Mungkin sampai kiamat pun
dalimin nggak akan mampu beli motor dari hasil jerih payahnya, dan jika
seandainya dia menang lomba dan dapat motor, tentu sayalah orang yang dianggap
paling berbaik hati dan mulia di matanya.
Pada hari itu juga, saya dan dalimin sibuk ngrias becak, pita-pita
berwarna warni, karton-karton, dengan bagusnya nemplok di becak dalimin. Giranglah
dia, saya pun turut senang. Lantas, kami un segera bergegas menuju pendopo
kabupaten. Di sana rupanya sudah berkumpul orang-orang dengan berbagai macam
benda yang dikutlombakak. Sebagian ada yang senyum-senyum melihat saya dan
dalimin, kalau saya lihat senyumnya nggak enak banget. Saya terus memberi
semangat kepada dalimin, walaupun sebenarnya risih juga, becak butut yang
dirias ikut lomba, mana mungkin menang. Ah, saya segera saja membuang pikiran
itu, yang terpenting saya sudah berusaha buat teman saya ini. Setelah semua
peserta lomba terkumpul dengan bendanya maka segera saja dewan juri menilainya.
Terus terang saja saya ketar-ketir, apalagi melihat dalimin melototin motor
keluaran terbaru yang sebagai hadiah itu. Deg-degan sekali hati saya
kalau-kalau tidak menang, kecewalah dia, atau mungkin bisa saja saya dipecat
jadi temannya. Ah, berdoa-berdoa saja jalan satu-satunya. Mulut saya langusng
komat-kamit, dalimin heran, mulut dia pun juga menyusul komat-kamit.
Dua jam berlalu, tibalah keputusan pemenang dari lomba ini. Saya dan
dalimin berpandangan satu sama lain, sembari tak lupa komat-kamit saya
percepat. Siapapun dalam keadaan seperti ini pasti deg-degan sekali, tak
terkecuali saya dan dalimin. Jantung saya berdegup kencang sekali, kaki saya
juga gemetaran. mata pun jadi merem melek. Dewan juri pun memutuskan pemenang
ketiga dengan hadiah lemari es yang ternyata dimenangkan orang bernama suwito,
jantung saya semakin cepat degupnya, menyusul diumumkan pemenang kedua dengan
hadiah televise lcd 32 inch dimenangkan oleh orang dengan nama daliman … ah
nyaris, saya kira dalimin ternyata namanya hampir mirip Cuma beda vokalnya
akhirnya saja. Sementara itu, saya melihat dalimin dengan semangat yang menyala
nyala dan harap cemas yang begitu hebat melirik motor keluaran terbaru it
terus. Perih hati saya. Tibalah pengumuman pemenang pertama dengan hadiah
sepeda motor. Saya rasanya ingin lari saja, dalimin mencengkeram erat tangan
saya.
“Pemenang pertama adalah…” juri belum sempat melanjutkan karena hapenya
melengking-lengking. Baru setelah hape itu diangkat dan pembicaraan selesai,
juri segera duduk lagi.
“pemenang pertama adalah DA – LI –MIN “ teriak juri sembari bertepuk
tangan riuh.
Dalimin jingkrak-jingkrak, dan saya hampir saja semaput. Saya senang sekali, akhirnya saya bias mewujudkan keinginan dalimin. Sorenya
motor pun diboyong ke rumah dalimin, tentu saja dengan becaknya. Selesai sudah
tugas saya membuat lenyap muka manyun dalimin. Karena ada keperluan saya segera
pulang ke rumah, tidak ikut merayakan kebahagiaan dalimin dan keluarganya. Dengan
begitu saja, kebahagiaan saya rasanya tak terbayar kok.
Pagi buta, kalau nggak salah masih subuh barangkali, saya dikagetkan
seseorang, yang ternyata dalimin. Dalam keadaan ngantuk yang teramat sangat,
dalimin terus membangunkan saya.
“ rus, bangun rus, bangun … bangun, rus,…motor saya ilang, motor saya
ilang”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar